17/01/2018

Dagcoin vs Bitcoin

 

DAGCOIN merupakan Cryptocurrency yang menggunakan tekhnologi DAGCHAIN. Kebanyakan crypto yang ada menggunakan tekhnologi BLOCKCHAIN. Dagcoin dikembangkan oleh sebuah perusahaan IT/Software dari Estonia Ignite OÜ. Berikut referensinya: Disini dan Disini. Baca juga di Wikipedia.

Peran utama dari tekhnologi crypto adalah sebagai OPEN LEDGER atau akuntansi terbuka. Contoh di bank ada pembukuan besar yang tersimpan di data base server bank yang berisi seluruh transaksi dan mutasi rekening nasabah. Yang dapat mengaksesnya tentu hanya bankir. Adapaun nasabah hanya dapat mengakses mutasi rekening miliknya saja.

Crypto memiliki buku besar ini juga tersimpan diserver namun bukan hanya developer tapi juga seluruh orang yang dapat mengakses internet dapat melihatnya baik punya akun atau tidak punya akun di crypto.

Didunia smartphone dulu ada Nokia mesinnya (OS)-nya Symbian, Blackberry OS nya Blackberry, Iphone OS nya iOS & Samsung OS nya android. Terbukti Samsung & iphone lebih dapat bertahan hingga sekarang karena OS-nya atau mesinnya.

Dalam dunia crypto juga demikian, Bitcoin dan Blockchain adalah 2 hal yang berbeda. Blockchain adalah tekhnologinya (OS-nya istilah di smartphone) ibarat masih “symbian” di merek hp tekenal nan fenomenal Nokia. Sedang bitcoin hanya salah satu “merek” dari 1000 lebih crypto berbasis tekhnologi blockchain. Adapun Ethereum adalah juga masih keluarga tekhnologi blockchain dengan tingkatan lebih tinggi. Dan juga bitcoin versi tertinggi yang mengklaim lebih cepat transaksinya juga diibarat “blackberry”. Analoginya sbb:

Kata blockchain sendiri diambil dari mekenisme transksinya menggunakan system BLOCK. Pendukung lainnya dari blockchain adalah miner/tambang berupa seperangkat GPU/CPU komputer yang bertugas mengkonfirmasi transaksi bitcoin dan juga menemukan blok baru. Namun, seiring berjalannya waktu, kita melihat beberapa masalah dengan Bitcoin dan blockchain. Meskipun masih menawarkan desentralisasi, masalah besar yang telah muncul adalah masalah waktu transaksi karena sifat bagaimana block bekerja.

Pesaing baru, dengan teknologi baru, telah diakui yang dikenal dengan sebutan Byteball, IOTA & Dagcoin dan mereka menawarkan solusi yang menjadikan Bitcoin dan blockchain-nya menjadi tidak beres dengan penggunaan tekhnologi Directed Acyclic Graph (DAG) – Chain.

Secara nominal, blockchain karena menggunakan jasa miner maka ada “uang jasa” atau fee transaksi yang nilainya cukup besar. Bahkan jika ingin transaksinya diperioritaskan maka semakin besar jumlah feenya hingga senilai Rp 50.000,- lebih. Sedangkan Dagchain tidak memerlukan miner sehinga dapat menekan fee hanya Rp 1,- saja.

DAG bekerja berbeda dari blockchain. Dimana blockchain membutuhkan pesetujuan dari para penambang pada setiap transaksi, DAG berhasil mengatasi hal ini dengan menyingkirkan blok sepenuhnya. Sebaliknya, transaksi DAG dihubungkan satu sama lain, yang berarti satu transaksi mengkonfirmasi hal berikutnya dan seterusnya. Nama Dagchain sendiri dari istilah DAG, seperti blok dari hash mengilhami nama blockchain.

Dengan menggunakan sistem seperti ini, waktu transaksi akan menjadi sepersekian bitcoin bahkan dalam kondisi padat transaksi sekalipun justru akan semakin kecepatannya unlimited. Hal ini berbanding terbalik dengan blockchain semakin padat transaksi maka akan semakin lambat transaksinya bahkan memerlukan perluasan jaringan baru (skalabilitas) maka terjadi hardfork. Kita tentu masih ingat hardfork I muncul BCH, II muncul BTG dan hardfork III (segwit tanggal 26 Januari 2018) muncul B2X.

 

Blockchain setidaknya memerlukan waktu 10 menit bahkan hingga 2-6 jam lebih untuk transaksi dengan minimal 3 konfirmasi. Hal ini terjadi karena setiap transaksi terhubung ke transaksi berikutnya secara bersamaan oleh miner.

Kurangnya miner dapat menjadi ancaman yang selalu menimpa ancaman yang membayangi suatu entitas memiliki lebih dari 50% jaringan dan mulai melakukan penambahan alat. Tapi bagaimana DAG membuang ancaman ini? Nah, tanpa PoW yang digunakan blockchain, permintaan transaksi DAG sudah menyebar melalui banyak transaksi lainnya. Dalam kasus peningkatan transksi yang terjadi pada DAG adalah paralel pada waktu yang sama, sistem Byteball menggunakan “Rantai Utama” yang dioperasikan oleh developer terpercaya.

Jika penggunaan DAG meluas, hal ini benar-benar menunjukkan beberapa keuntungan dibandingkan blockchain di hampir setiap kategori.

Seiring masalah terus bermunculan dalam sistem blockchain, masyarakat mungkin mencoba untuk bermigrasi ke sistem yang lebih maju berteknologi lebih baru seperti DAG. Akankah ini menjadi jalan masa depan untuk transaksi crypto? Siapa tahu…